// API callback
related_results_labels({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","feed":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$openSearch":"http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/","xmlns$blogger":"http://schemas.google.com/blogger/2008","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-5810297885412316870"},"updated":{"$t":"2021-07-21T21:25:05.168+07:00"},"category":[{"term":"Headline"},{"term":"sosial"},{"term":"Bandung"},{"term":"nasional"},{"term":"Garut"},{"term":"Sumedang"},{"term":"Pendidikan"},{"term":"Politik"},{"term":"ekonomi"},{"term":"Hukum"},{"term":"Bogor"},{"term":"Cirebon"},{"term":"Hankam"},{"term":"Muda"},{"term":"sukabumi"},{"term":"Tasikmalaya"},{"term":"Bekasi"},{"term":"Pangandaran"},{"term":"Ciamis"},{"term":"Cianjur"},{"term":"Karawang"},{"term":"Purwakarta"},{"term":"Cimahi"},{"term":"Depok"},{"term":"persib"},{"term":"Jabar"},{"term":"Majalengka"},{"term":"Subang"},{"term":"agama"},{"term":"jabar 3"},{"term":"jabar 4"},{"term":"Banjar"},{"term":"Indramayu"},{"term":"Priangan"},{"term":"olahraga"},{"term":"Haeadline"},{"term":"Unik"},{"term":"jabar 2"},{"term":"jabar 5"}],"title":{"type":"text","$t":"Berita Jabar Online"},"subtitle":{"type":"html","$t":"Informasi Seputar Jawa Barat"},"link":[{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#feed","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/feeds\/posts\/default"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/-\/ekonomi?alt=json-in-script\u0026max-results=8"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/search\/label\/ekonomi"},{"rel":"hub","href":"http://pubsubhubbub.appspot.com/"},{"rel":"next","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/-\/ekonomi\/-\/ekonomi?alt=json-in-script\u0026start-index=9\u0026max-results=8"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"generator":{"version":"7.00","uri":"http://www.blogger.com","$t":"Blogger"},"openSearch$totalResults":{"$t":"16"},"openSearch$startIndex":{"$t":"1"},"openSearch$itemsPerPage":{"$t":"8"},"entry":[{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-5810297885412316870.post-4082291508142142134"},"published":{"$t":"2016-10-16T00:41:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2016-10-16T00:43:56.888+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Ciamis"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Headline"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"nasional"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Pangandaran"}],"title":{"type":"text","$t":"Dampak Jembatan Patah, Pangandaran Sepi"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/1999\/xhtml\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-aEoYMMzIIQg\/WAJqX2GcGJI\/AAAAAAAABnw\/ZHvdOXhDBLc\/s2560\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" onblur=\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"426\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-aEoYMMzIIQg\/WAJqX2GcGJI\/AAAAAAAABnw\/ZHvdOXhDBLc\/s640\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" style=\"display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003Cbr \/\u003EDampak dari patahnya Jembatan Puterapinggan, geliat pariwisata di Kabupaten Pangandaran mulai sepi. Penurunan jumlah kunjungan tersebut sangat signifikan. Kebanyakan calon wisatawan membatalkan kunjungannya ke Pangandaran.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pangandaran Muhlis mengakui, saat ini geliat pariwisata di Pangandaran memang mulai sepi. Hal tersebut dapat terlihat dari jumlah retribusi yang diterima oleh pemerintah daerah dari Pantai Pangandaran. \"Pada hari biasa juga biasanya sepi. Tapi tidak sesepi ini,\" ungkap dia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPada hari normal kata Muhlis, biasanya retribusi yang didapat mampu mencapai Rp 5.000.000 hingga Rp 6.000.000. Setelah Jembatan Puterapinggan patah pendapatan retribusi Pantai Pangandaran anjlok hingga Rp 300.000. \"Mau bagaimana lagi, Ini musibah bencana bukan salah siapa-siapa,\" kata Muhlis di Kantor Dinas Pariwisata, Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Pangandaran, Jumat, 14 Oktober 2016.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelain di Pantai Pangandaran kata dia, objek wisata lainnya seperti Batukaras, dan Green Canyon pun terpantau sepi. Belum ada peningkatan signifikan pengunjung di kedua objek wisata tersebut. Padahal saat ini sudah memasuki akhir pekan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EIa menambahkan, bidang pariwisata kini tengah mencari cara agar para pengunjung kembali mendatangi Pangandaran. Salah satunya kata dia, yaitu dengan mengemas beberapa kegiatan menjadi satu kegiatan. Lebih lanjut Muhlis optimistis gairah pariwisata akan kembali normal setelah selesainya pemasangan jembatan bailey di Puterapinggan. \"Diharapkan delapan puluh persen kembali normal,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESepinya pengunjung juga berimbas pada usaha perhotelan di Pangandaran. Sekretaris Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pangandaran Dadang Gunawan mengatakan, kebanyakan wisatawan memilih batal pergi ke Pangandaran.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMengingat lamanya waktu yang harus ditempuh jika melalui jalan alternatif. \"Sekitar 15 persen membatalkan pesanan. Contohnya wisatawan dari Jateng, kan jauh harus muter dulu ke Tasikmalaya,\" ujarnya. Dadang menambahkan, para wisatawan tersebut mayoritas memilih untuk menunggu rampungnya pemasangan jembatan bailey. \"Mungkin sekitar November mereka ke sini,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBupati Pangandaran Jeje Wiradinata tak menampik, saat ini geliat pariwisata di Pangandaran mulai lesu. \"Turun sekitar 95 persen,\" kata Jeje saat memantau Jembatan Puterapinggan, Desa Puterapinggan, Kecamatan Kalipucang, Jumat. Sepinya kunjungan wisatawan tentunya tak lepas dari patahnya Jembatan Puterapinggan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMengingat jembatan tersebut merupakan akses utama dan sangat vital bagi wisatawan maupun masyarakat Pangandaran. Selain melumpuhkan sektor pariwisata, patahnya jembatan juga membuat pengiriman komoditas Pangandaran menjadi terhenti. \"Kayu sengon sehari satu setengah miliar, gula bisa Rp 3 sampai Rp 5 miliar. Semen dan gas sudah langka,\" ujar Jeje.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EOleh karena itu, dia mengaku, dirinya telah memerintahkan jajarannya agar segera menginventarisasi berbagai alternatif jalan di Kabupaten Pangandaran. Pasalnya kata dia, bidang pekerjaan umum saat ini diperintahkan untuk fokus mengurusi Jembatan Puterapinggan. \" Asda (asisten daerah) I sudah diperintahkan, akses jalan yang terputus suruh diselesaikan \" kata Jeje.*** \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E(PR141016)\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/feeds\/4082291508142142134\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/dampak-jembatan-patah-pangandaran-sepi.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/4082291508142142134"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/4082291508142142134"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/dampak-jembatan-patah-pangandaran-sepi.html","title":"Dampak Jembatan Patah, Pangandaran Sepi"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-aEoYMMzIIQg\/WAJqX2GcGJI\/AAAAAAAABnw\/ZHvdOXhDBLc\/s72-c\/%25255BUNSET%25255D.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-5810297885412316870.post-5957959675650214182"},"published":{"$t":"2016-10-12T22:09:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2016-10-12T22:14:47.464+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Headline"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"nasional"}],"title":{"type":"text","$t":"Selebgram, Kaskuser, dan Penjual di Facebook Bakal Dikenai Pajak"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/1999\/xhtml\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-GbEg3gGOPjk\/V_5SN_p-SaI\/AAAAAAAABmw\/_sZG0YCOX28\/s2560\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" onblur=\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"320\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-GbEg3gGOPjk\/V_5SN_p-SaI\/AAAAAAAABmw\/_sZG0YCOX28\/s640\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" style=\"display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003Cbr \/\u003EPemerintah, melalui Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak), berencana untuk mengenakan pajak terhadap pengguna yang memakai akunnya untuk menjual jasa atau barang di media sosial.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMedia sosial yang dimaksud, antara lain Instagram, Facebook, forum online Kaskus, dan sejenisnya. Ini berarti selebgram yang mempromosikan sebuah produk di Instagram, penjual di Facebook, dan Kaskuser yang berjualan di forum jual beli (FJB) akan dikenai pajak.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDirektur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan Pajak Kemenkeu Yon Arsal mengatakan, pemerintah kemungkinan bisa mendapatkan pemasukan hingga 1,2 miliar dollar AS atau setara Rp 15,6 triliun, jika bisa menarik pajak dari kegiatan di media sosial tersebut.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“ Online marketplace , daily deals , penjualan langsung, dan para endorser merupakan subyek pajak jika mereka memiliki pemasukan yang mesti dilaporkan,” terang Yon, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari\u003Cbr \/\u003EBloomberg , Rabu (12\/10\/2016).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Sekarang kami sedang diskusi untuk memutuskan cara yang efektif dalam menerapkan pajak ini, juga membicarakan kemungkinan menerapkan tarif pajak yang berbeda untuk masing-masing jenis bisnis (di media sosial itu),” imbuhnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESeperti diketahui, media sosial di Indonesia telah menjelma menjadi sebuah pasar. Baik di Instagram, Facebook, Kaskus, maupun sejenisnya, orang bisa dengan mudah menemukan berbagai barang dagangan. Jenisnya pun beragam, mulai dari tas merek Channel, sepatu, biskuit makanan anjing, laptop, hingga iPhone 7.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelain itu, sejumlah orang yang memiliki banyak followers di Instagram (selebgram) atau media sosial lain memang kerap memberikan layanan iklan. Bentuknya berupa endorse (promosi) terhadap barang atau jasa tertentu.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ENamun, selama ini pemerintah belum mengenakan pajak pada kegiatan tersebut. Pasalnya, bisnis online yang menjadi subyek pajak masih terbatas pada bisnis yang memiliki pemasukan minimal Rp 4,8 miliar per tahun.\u003Cbr \/\u003EMenurut Yon, sekarang pemerintah sedang menggodok langkah baru.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EUntuk pengguna yang melakukan endorse (misalnya selebgram), pemerintah akan membandingkan laporan pajak mereka dengan kegiatan di akun media sosial masing-masing.\u003Cbr \/\u003EKementerian Keuangan juga akan meminta bantuan pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk melacak transaksi dan penjualan online.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E(Kom121016)\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/feeds\/5957959675650214182\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/selebgram-kaskuser-dan-penjual-di.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/5957959675650214182"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/5957959675650214182"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/selebgram-kaskuser-dan-penjual-di.html","title":"Selebgram, Kaskuser, dan Penjual di Facebook Bakal Dikenai Pajak"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-GbEg3gGOPjk\/V_5SN_p-SaI\/AAAAAAAABmw\/_sZG0YCOX28\/s72-c\/%25255BUNSET%25255D.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-5810297885412316870.post-4597908498874090808"},"published":{"$t":"2016-10-11T04:27:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2016-10-11T04:29:38.207+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Headline"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"nasional"}],"title":{"type":"text","$t":"Subsidi Listrik 900 Va Dicabut, Pelanggan Pasrah, Kalau Anda?"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/1999\/xhtml\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-AsPliZOMhoI\/V_wHyj7Gx7I\/AAAAAAAABls\/6k4AYmW1PxM\/s2560\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" onblur=\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"352\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-AsPliZOMhoI\/V_wHyj7Gx7I\/AAAAAAAABls\/6k4AYmW1PxM\/s640\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" style=\"display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana akan mencabut subsidi pelanggan listrik dengan daya 900 Volt-ampere (Va). Dengan demikian, tarif listrik dengan daya ini pun otomatis akan mengalami kenaikan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPencabutan subsidi listrik 900 Va ini rencananya akan mulai dilakukan pada Januari 2017 mendatang secara bertahap. Nantinya, aturan pencabutan subsidi akan keluar sebelum 2017 mendatang. Bentuk aturannya akan keluar dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen), tepat sebelum 2017.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKebijakan ini diambil pemerintah seiring akibat masih banyak ketidaktepat sasarannya. Berdasarkan data TNP2K, hanya 4 juta pelanggan 900 Va yang berhak mendapatkan subsidi. Sementara sekitar 18 juta pelanggan rumah tangga golongan 900 Va akan dialihkan ke golongan nonsubsidi 1.300 Va dari total 22,3 juta pelanggan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELantas, bagaimana tanggapan para pelanggan listrik dengan daya 900 Va itu sendiri? Apa saja harapannya terhadap pemerintah ke depannya? Simak berikut wawancara\u0026nbsp;Okezone\u0026nbsp;dengan salah seorang pelanggan listrik daya 900 Va bernama Syarif Hidayatullah (34), yang beralamat di Pengadegan Utara, Jakarta Selatan, dan berprofesi sebagai karyawan swasta.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESaya kaget juga sih ya (soal pencabutan subsidi listrik pelanggan daya 900 Va). Tapi ya mau gimana lagi. Sudah kewajiban kita juga yang harus bayar. Kalau engga bayar, kita engga punya listrik atau lampu. Saya sebulan itu bisa isi ulang token Rp50 ribu sebanyak tiga kali, jadi sebulan bisa Rp150 ribu.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EYa jadi mau engga mau (ikutin aturan pemerintah). Walaupun saya sendiri merasa keberatan, tapi kalau yang lain setuju (subsidi dicabut) ya mau engga mau kan kita ngikut aja.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESaya pasrah soal pencabutan subsidi ini. Tinggal kitanya gimana bisa mencukupi kebutuhan sehari-sehari bahkan bulanannya. Habisnya kita minta mau bantuan ya minta bantuan ke siapa? Kita engga ada wewenang apa-apa, engga didengar juga sama pemerintah. Pada demo banyakan, tapi tetap saja pemerintah bilang A tetep A.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESejauh ini dengan gaji segitu (Rp2 juta per bulan), ya cukup-cukup aja sih, bisa terima (kalau tarif listrik naik). Kalau penghasilan kurang ya kasihan juga. Tapi emang yang kurang (pendapatannya) ini mau engga mau (pasrah).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EHarapannya, supaya pemerintah bisa meminimalisir saja, biar orang yang menengah ke bawah engga dicabut subsidinya. Biar engga keberatan (yang masyarakat menengah ke bawah). Kalau harapan lainnya juga pengennya disubsidi lagi, jadinya lebih ringan. Tapi intinya pemerintah harus tetap sejahterahkan masyarakat menengah ke bawah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EYa emang harus gitu, pemerintah harus bisa kasih subsidi sama kita yang engga mampu aja. Jadi, engga bakal salah sasaran, terus orang kaya yang pakai 900 Va ya cabut aja.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBahkan ditindak tegas kalau ketahuan ada kecurangan. Orang-orang saya lihat kan banyak Va listriknya yang gede-gede. Pakai 1.300 Va tahunya 5.000 Va. Kalau yang itu sih ada permainan sama orang PLN. Kalau orang awam kan engga paham yang begituan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESaya sih pengennya orang kaya-kaya yang masih pakai listrik dengan daya yang disubsidi oleh pemerintah itu di-sweepingya. Terus juga sekarang kalau ada yang nyolong listrik ditindak tegas. Sebel juga, harusnya kita bisa lebih murah, malah kita yang seolah-olah jadi mahal, soalnya orang-orang kaya tadi enak pakai daya listrik yang disubsidi sama pemerintah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E(OK101016)\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/feeds\/4597908498874090808\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/subsidi-listrik-900-va-dicabut.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/4597908498874090808"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/4597908498874090808"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/subsidi-listrik-900-va-dicabut.html","title":"Subsidi Listrik 900 Va Dicabut, Pelanggan Pasrah, Kalau Anda?"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-AsPliZOMhoI\/V_wHyj7Gx7I\/AAAAAAAABls\/6k4AYmW1PxM\/s72-c\/%25255BUNSET%25255D.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-5810297885412316870.post-6516473520299317692"},"published":{"$t":"2016-10-10T23:57:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2016-10-11T00:01:50.749+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Cirebon"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Headline"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Majalengka"}],"title":{"type":"text","$t":"Warga Majalengka Kesulitan Cari Premium di SPBU, Hilang Kemanakah Bbm bersubsidi?"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/1999\/xhtml\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-RDYyyhkz6Ds\/V_vIhgbhfoI\/AAAAAAAABlc\/I6LL3oLIvs0\/s2560\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" onblur=\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"413\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-RDYyyhkz6Ds\/V_vIhgbhfoI\/AAAAAAAABlc\/I6LL3oLIvs0\/s640\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" style=\"display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EWarga Majalengka, Jawa Barat mengeluh sulit mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Beberapa pekan terakhir stok premium di sejumlah SPBU seperti dikurangi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESeperti pantaun Radar Majalengka (Jawa Pos Group) di jalur Cigasong-Sindangwangi. Dari tiga SPBU dan hanya dua SPBU yang masih menyediakan pompa premium. Itu juga jumlahnya hanya satu pompa khusus kendaraan roda dua dan satu pompa untuk kendaraan roda empat.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBahkan di salah satu SPBU sama sekali sudah tidak menyediakan pompa premium. Yang lebih banyak pompanya saat ini untuk bensin jenis pertalite yang memiliki kandungan oktan 90, dan jenis pertamax dengan oktan 92.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPadahal sebelumnya pompa bensin jenis premium dengan oktan 88 biasanya paling banyak mesin pompanya. Kondisi itu dikeluhkan Fadilah. Dia megaku kaget ketika hendak mengisi bensin di SPBU langganan dekat rumahnya tidak disediakan lagi mesin pompa yang melayani penjualan premium.\u003Cbr \/\u003ESehingga terpaksa dia mengisi bensin jenis pertalite, karena jarum indikator bensin di motornya sudah menyentuh garis merah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMeskipun bensin jenis nonpremium memiliki harga yang tidak begitu jauh, namun bagi pekerja lapangan seperti dirinya yang sudah terbiasa memakai premium sedikit banyak bisa mempengaruhi jarak tempuh dan durasi waktu mengisi bensin.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Kalau untung ruginya sih tidak seberapa, paling beda Rp500 per liter. Tapi yang jadi pengaruh dari jarak tempuhnya. Perasaan biasanya ngisi bensin motor Rp 20 ribu kepake buat tiga hari, tapi sekarang karena diisi selain premium jadi was-was takut kehabisan di jalan. Jadi langsung ngisi lagi keesokan harinya pas pulang kerja,” ujarnya, Sabtu (8\/10).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E(RM091016)\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/feeds\/6516473520299317692\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/warga-majalengka-kesulitan-cari-premium.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/6516473520299317692"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/6516473520299317692"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/warga-majalengka-kesulitan-cari-premium.html","title":"Warga Majalengka Kesulitan Cari Premium di SPBU, Hilang Kemanakah Bbm bersubsidi?"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-RDYyyhkz6Ds\/V_vIhgbhfoI\/AAAAAAAABlc\/I6LL3oLIvs0\/s72-c\/%25255BUNSET%25255D.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-5810297885412316870.post-5979450656320275973"},"published":{"$t":"2016-10-10T06:31:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2016-10-10T06:35:26.690+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Headline"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"nasional"}],"title":{"type":"text","$t":"7 Pecahan Uang Rupiah Ini Tak Berlaku Lagi Mulai November 2016"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/1999\/xhtml\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-XDILiDduzCE\/V_rTYqXNZ-I\/AAAAAAAABks\/x0sD9ivhdX8\/s2560\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" onblur=\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"355\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-XDILiDduzCE\/V_rTYqXNZ-I\/AAAAAAAABks\/x0sD9ivhdX8\/s640\/%25255BUNSET%25255D.jpg\" style=\"display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESeusai mengumumkan perihal desain baru uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bank Indonesia (BI) mengumumkan pencabutan dan penarikan beberapa pecahan uangRupiah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMelansir laman BI, Rabu (21\/9\/2016), Bank Sentral menyebutkan jika pencabutan dan penarikan beberapa uang Rupiah dituangkan melalui Peraturan Bank Indonesia Nomor 8\/27\/PBI\/2006.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAdapun pecahan Rupiah yang ditarik, yaitu uang kertas Rp 5.00 (tahun emisi 1992), Rp 1.000 (tahun emisi 1992), Rp 500 (tahun emisi 1992), Rp 100 (tahun emisi 1992), dan uang logam Rp 100 (tahun emisi 1991).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKemudian pecahan Rp 50 (tahun emisi 1991), dan Rp 5 (tahun emisi 1979).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Bagi masyarakat yang masih memiliki uang pecahan emisi tersebut, penukaran masih dapat dilakukan di Bank Indonesia hingga 29 November 2016,\" menurut penjelasan BI.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenukaran\u0026nbsp;uang\u0026nbsp;kertas dan uang logam yang ditarik dan dicabut peredarannya tersebut dapat dilakukan di seluruh kantor perwakilan (KPw) BI di Indonesia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E(Lip6210916)\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/feeds\/5979450656320275973\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/7-pecahan-uang-rupiah-ini-tak-berlaku.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/5979450656320275973"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/5979450656320275973"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/10\/7-pecahan-uang-rupiah-ini-tak-berlaku.html","title":"7 Pecahan Uang Rupiah Ini Tak Berlaku Lagi Mulai November 2016"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-XDILiDduzCE\/V_rTYqXNZ-I\/AAAAAAAABks\/x0sD9ivhdX8\/s72-c\/%25255BUNSET%25255D.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-5810297885412316870.post-6645740729710400556"},"published":{"$t":"2016-09-22T18:41:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2016-09-22T18:41:35.727+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Headline"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Subang"}],"title":{"type":"text","$t":"Kompor Buatan Pemuda Subang Menjadi Incaran Asing"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/2.bp.blogspot.com\/-BvpMHqN3XCE\/V-PBzj_nh7I\/AAAAAAAABU8\/HevtB5DELiwhFkFut54c44Bu2mIGirojACEw\/s1600\/20160922183345.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"414\" src=\"https:\/\/2.bp.blogspot.com\/-BvpMHqN3XCE\/V-PBzj_nh7I\/AAAAAAAABU8\/HevtB5DELiwhFkFut54c44Bu2mIGirojACEw\/s640\/20160922183345.jpg\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003E\u003Cstrong\u003EMoney.id -\u0026nbsp;\u003C\/strong\u003EKreativitas Dede Miftahul Anwar (22) di bidang ilmu pengetahuan patut diperhitungkan. Dia berhasil membuat kompor berbahan bakar air yang digunakan masyarakat di Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003EPenemuan Dede tersebut dianggap sanggat membantu masyarat di kampung kelahirannya itu, pasalnya gas elpiji jarang dipasok ke daerah tersebut. Alasan kampung tersebut tidak terjamah distributor gas elpiji sangat klasik. Karena akses jalan susah.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003E\"Mobil pengangkut elpiji tidak sampai ke rumah saya,\" ucap Dede saat berbincang dengan\u0026nbsp;\u003Cem\u003EMoney.id\u003C\/em\u003E\u0026nbsp;beberapa waktu lalu.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003EDede menggambarkan, untuk menuju ke kampungnya butuh waktu sekitar lima jam apabila berangkat dari pusat Kota Bandung. Apabila menggunakan sepeda motor, jalan yang diambil adalah menuju Padalarang, kemudian menuju jalur ke arah Purwakarta. Dari sana langsung menuju ke Pabuaran, Subang.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003EDia menegaskan, menuju ke Kampung Kerajan tidak ada angkutan khusus. Alat transportasi satu-satunya adalah ojek. Sepanjang jalan menuju kampungnya harus melewati bentangan sawah dan hutan karet.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003ETidak hanya itu, salah satu yang membuat akses ke kampungnya sangat sulit adalah harus melewati sungai yang sangat lebar dengan arus deras. \"Hanya ada satu jembatan kayu yang menjadi penghubung ke kampung saya,\" tuturnya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif; text-align: center;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003EDari sulitnya pasokan gas itulah yang membuatnya bersikeras menciptakan sebuah produk bermanfaat bagi orangtuanya dan seluruh warga Kampung Kerajan. \"Kalau tidak ada gas warga di kampung saya harus cari kayu bakar ke hutan,\" tutur Dede.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003EMelihat kondisi tersebut akhirnya Dede membuat kompor berbahan bakar air tersebut. Secara sederhana dia menjelaskan, dua unsur yang ada di dalam air yakni oksigen dan hidrogen diurai.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003EKata dia, selanjutnya senyawa oksigen diendapkan dan gas hidrogen itulah yang digunakan sebagai bahan bakar. Dede membuat senyawa khusus yang bisa mengurai oksigen dan hidrogen tersebut.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003E\"Bahan-bahannya sangat mudah didapatkan dan sangat murah. Jadi saya bisa menjual gas hidrogen itu lebih murah dari gas elpiji,\" ujar Dede.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003EMelalui perusahaannya, bernama CV\u0026nbsp;Energon Teknologi, Dede menjual gas hidrogen Rp10 ribu per tabung. Untuk pemakain kebutuhan memasak keluarga sehari-hari, gas hidrogen itu biasanya cukup untuk dua pekan. \"Saya juga mendirikan Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH). Sehingga warga di kampung saya tidak sulit untuk melakukan pengisian hidrogen,\" jelasnya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"font-family: sans-serif;\"\u003EHasil penemuan itu dilombakan dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2015. Karena kompor berbahan bakar air itu, Dede menjadi juara pertama di ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015 untuk bidang usaha teknologi non digital.\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/feeds\/6645740729710400556\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/09\/kompor-buatan-pemuda-subang-menjadi.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/6645740729710400556"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/6645740729710400556"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/09\/kompor-buatan-pemuda-subang-menjadi.html","title":"Kompor Buatan Pemuda Subang Menjadi Incaran Asing"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/2.bp.blogspot.com\/-BvpMHqN3XCE\/V-PBzj_nh7I\/AAAAAAAABU8\/HevtB5DELiwhFkFut54c44Bu2mIGirojACEw\/s72-c\/20160922183345.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-5810297885412316870.post-3495609784253483449"},"published":{"$t":"2016-09-18T23:11:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2016-09-18T23:11:12.306+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Headline"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"nasional"}],"title":{"type":"text","$t":"Ini Penyebab Harga Gas Dalam Negeri Lebih Mahal dari Negara Lain "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-UCFCTjAm9Fo\/V966zqhoBOI\/AAAAAAAABTQ\/sw2udgBZltUNcEUxk7prv91uH3qdWYG4wCEw\/s1600\/160918220942-ini-penyebab-harga-gas-dalam-negeri-lebih-mahal-dari-negara-lain.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"232\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-UCFCTjAm9Fo\/V966zqhoBOI\/AAAAAAAABTQ\/sw2udgBZltUNcEUxk7prv91uH3qdWYG4wCEw\/s320\/160918220942-ini-penyebab-harga-gas-dalam-negeri-lebih-mahal-dari-negara-lain.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 1.1em !important; margin-bottom: 10px; vertical-align: top;\"\u003E\u003Cstrong style=\"box-sizing: border-box;\"\u003EHARGA\u003C\/strong\u003E\u0026nbsp;gas untuk industri di Tanah Air saat ini mencapai sekitar USD 12 per MMBTU ( Million Metric British Thermal Unit). Harga ini jauh lebih mahal dibanding negara ASEAN lainnya seperti Singapura. Padahal, Indonesia selama ini merupakan negara eksportir gas.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 1.1em !important; margin-bottom: 10px; vertical-align: top;\"\u003EMenurut Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Syamsir Abduh, mahalnya harga gas di Indonesia disebabkan karena rumit dan panjangnya mata rantai perdagangan gas.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 1.1em !important; margin-bottom: 10px; vertical-align: top;\"\u003E\"Mata rantai terlalu panjang. Lima tingkat misalnya trader pertama, kedua dan seterusnya itu terlalu panjang,\" katanya dalam diskusi energi kita di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (18\/9).\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 1.1em !important; margin-bottom: 10px; vertical-align: top;\"\u003EAnggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi mengatakan, tingginya harga gas karena banyak trader yang tidak memiliki fasilitas penyaluran seperti pipa gas.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 1.1em !important; margin-bottom: 10px; vertical-align: top;\"\u003E\"Saran saya langkah pertama menghilangkan titik titik inefisiensi terdapat trader yang punya infrastruktur atau yang hanya modal dengkul. Siapa pun orangnya harus dihapus dalam sistem keuntungan yang mereka serap jangan merugikan rakyat, merugikan kalangan industri,\" katanya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 1.1em !important; margin-bottom: 10px; vertical-align: top;\"\u003EUntuk jangka panjang, Kurtubi menyarankan agar pemerintah segera merevisi UU Migas tentang efisiensi gas nasional yang intinya baik minyak atau gas tidak lewat perantara baik ekspor maupun impor luar negeri.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 1.1em !important; margin-bottom: 10px; vertical-align: top;\"\u003E\"Langsung ke pemiliknya PGN dan Pertamina untuk bisa membangun infrastruktur gas negara sehingga harga yang dibayar oleh konsumen itu nggak mahal. tidak ada lagi peran trader,\" tutupnya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 1.1em !important; margin-bottom: 10px; vertical-align: top;\"\u003E\u003Cstrong style=\"box-sizing: border-box;\"\u003EEditor: H. Dicky Aditya\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/feeds\/3495609784253483449\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/09\/ini-penyebab-harga-gas-dalam-negeri_18.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/3495609784253483449"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/3495609784253483449"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/09\/ini-penyebab-harga-gas-dalam-negeri_18.html","title":"Ini Penyebab Harga Gas Dalam Negeri Lebih Mahal dari Negara Lain "}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-UCFCTjAm9Fo\/V966zqhoBOI\/AAAAAAAABTQ\/sw2udgBZltUNcEUxk7prv91uH3qdWYG4wCEw\/s72-c\/160918220942-ini-penyebab-harga-gas-dalam-negeri-lebih-mahal-dari-negara-lain.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-5810297885412316870.post-3895152962671137553"},"published":{"$t":"2016-09-17T09:56:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2016-09-17T12:46:08.826+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Headline"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"nasional"}],"title":{"type":"text","$t":"Prof. Dawam Rahardjo: “Bank Syariah ‘Peternakan Uang’ Ribawi yang Haram!”"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-4nI-HsnUF3c\/V9yv2Ym8JhI\/AAAAAAAABS8\/EvxofCTethkSxGmmW1vhiRfNPYUiyO2vQCLcB\/s1600\/images.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"231\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-4nI-HsnUF3c\/V9yv2Ym8JhI\/AAAAAAAABS8\/EvxofCTethkSxGmmW1vhiRfNPYUiyO2vQCLcB\/s320\/images.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cbr \/\u003EBANK Muamalat Indonesia berdiri tahun 1992. Sebagai bank syariah pertama, Bank Muamalat harus membuktikan diri sebagai sistem perbankan alternatif terhadap model konvensional. Terhindar dari krisis moneter Asia Tenggara 1997 karena tidak mengikuti sistem bunga pasar, bank syariah mulai mendapat perhatian.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAkan tetapi, kebangkitan bank syariah terjadi awal abad ke-21, bersamaan dengan kebangkitan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKMK) berbasis pertanian. Keberhasilan bank syariah baru tampak dengan dibentuknya Bank Syariah Mandiri dengan dukungan Bank Mandiri. Langkah itu diikuti pembentukan Unit Usaha Syariah (UUS) yang setelah berkembang berdiri sendiri menjadi Bank Umum Syariah (BUS) sebagai cabang dari bank umum konvensional.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETernyata UUS dan BUS berkembang rata-rata dua kali lebih cepat dan lebih menguntungkan daripada perbankan konvensional. Diterima pasar Perkembangan itu diikuti juga terbentuknya Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan Bait al Mal wa al Tamwil (BMT) sebagai lembaga keuangan mikro. Gejala ini menunjukkan bahwa konsep bank syariah tak hanya diterima pasar dan investor, tetapi juga menunjukkan keunggulannya, baik dari segi pertumbuhan aset dan modal, rentabilitas, maupun kepercayaan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ENamun, dalam laporan manajemennya, ada beberapa kelemahan yang oleh ahli ekonomi Islam Jerman, Volkner Nienhaus, disebut sebagai kelemahan institutional capability atau kemampuan kelembagaan, terutama dalam pengembangan produk-produk berdasarkan akad murabahah, mudharabah, musyarakah, dan qord al hasan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETernyata 70 persen akad berupa transaksi murabahah yang melayani kebutuhan konsumsi dan perdagangan dengan sistem mark up. Produk-produk lain, terutama qord al hasan (fasilitas kebajikan), untuk orang miskin dan pengusaha pemula sangat terbatas. Penilaian kedua adalah bahwa bagi hasil yang diterima ataupun dibebankan kepada debitor rata-rata lebih tinggi dari suku bunga. Dalam kaitan ini yang diuntungkan ialah investor dan depositor pemilik dana dan yang dirugikan adalah debitornya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETimbul pertanyaan, “Apa bedanya dengan bank konvensional?” Kritik ketiga adalah kekhawatiran akan jatuhnya bank syariah kepada pemodal asing sejalan dengan meningkatnya pangsa pasar bank syariah yang kini baru mencapai 5 persen dari aset perbankan nasional. Meski kritik itu diam-diam diakui, perbaikan tidak tampak signifikan dan ada saja bank yang menolak membuat laporan mengenai kompatibilitas bank syariah dengan hukum syariah berdasarkan tujuan-tujuan syariah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKesimpulannya, bank syariah secara esensial tidak berbeda dengan bank konvensional sebagai investor oriented firm (IOF) yang bertujuan mencapai keuntungan sebesar-besarnya dengan uang sebagai komoditas utama. Dengan kata lain, bank syariah dalam praktiknya tetap lembaga “peternakan uang” (making money out of money) alias lembaga ribawi yang diharamkan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBedanya hanya pada instrumen, yaitu perhitungan bagi hasil atau mudharabah yang tidak pernah dipraktikkan sesuai maksud dan tujuan syariah. Untuk mengakalinya, profit-sharing diubah menjadi revenue-sharing, yang mirip transaksi murabahah. Padahal, sebenarnya bank syariah dibentuk dengan tujuan menghapus riba dalam industri keuangan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDalam Al Quran, riba itu diharamkan, sedangkan yang dihalalkan adalah transaksi jual-beli. Alternatif riba pada dasarnya adalah sistem zakat, sadaqah, dan infaq sebagai fasilitas pinjaman untuk kebajikan atau al qord al hasan dan dalam sunah adalah waqaf. Karena itu, sumber dana bank Islam sebenarnya adalah harta agama sebagaimana ditulis oleh Prof Dr KH Miftah Faridh dalam bukunya, Harta, yang tergolong dalam kategori nonpasar (nonmarket).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDana nonpasar bisa berasal dari anggaran belanja sosial negara, bantuan internasional, atau dana corporate social responsibility (CSR). Tetapi, sumber dana bank syariah bisa berupa dana simpanan koperasi, tabungan masyarakat, bahkan investor karena bank sosial juga bisa memberikan keuntungan. Berorientasi Pengguna Dengan demikian, bank syariah pada hakikatnya adalah perusahaan yang berorientasi pada pengguna atau User Oriented Firm (UOF) atau lembaga fasilitas keuangan untuk kebajikan (al qord al hasan).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDalam teori perbankan kontemporer, bank semacam ini disebut “bank sosial” (social bank) yang dewasa ini sudah berkembang di dunia dan bergabung dalam organisasi Global Bank based on Ethical Value (GBEV). Bank sosial ini selain berdasar nilai etis juga berorientasi pada dampak sosial dan lingkungan hidup (social and environmental impact). Dalam konteks Indonesia, bank sosial bisa memfasilitasi perkembangan ekonomi rakyat sebagai basis kemandirian ekonomi bangsa.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMisi bank sosial berdasar syariah ini adalah memberikan fasilitas keuangan kepada orang miskin produktif (productive poor) dan orang-orang telantar atau tuna-perlindungan sosial dengan penciptaan lapangan kerja atau inkubator bisnis dan peningkatan pendapatan masyarakat secara merata yang merupakan basis dari inklusi finansial, sebagaimana Grameen Bank, Banglades, yang dananya berasal dari lembaga donor. Dalam kasus perlindungan sosial, Dompet Dhuafa bisa menjadi embrio bank sosial syariah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBank bisa memfasilitasi pendirian koperasi perumahan, koperasi pendidikan, koperasi kesehatan, koperasi asuransi sosial, dan koperasi transportasi. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat atas fasilitasi bank sosial, maka akan terjadi proses inklusi finansial, di mana masyarakat akan menyimpan dana di bank dan bank akan menjadi pengelola uang tunai masyarakat sebagai sumber permodalan baru dengan dukungan media jejaring sosial.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDalam kaitan ini, sumber keuntungan bank adalah biaya pelayanan administrasi (fee based income) dan bukan hasil “peternakan uang”. Walaupun belum dikenal dalam nomenklatur perbankan Indonesia, bank sosial bisa dibuatkan landasan perundangannya. Kalangan Kristen Demokrat Jerman sebenarnya berharap bank Islam itu sama dengan bank sosial di negara-negara maju. Karena itu, bank syariah dewasa ini bisa dikembangkan menjadi bank sosial Islam dengan meredefinisikan sistem produk dan jenis akadnya, sesuai tujuan-tujuan syariah (al Maqosith al Syariah) dalam konteks Indonesia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EM Dawam Rahardjo, Rektor Universitas Proklamasi ’45, Yogyakarta\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETulisan ini pernah dimuat Harian Kompas, 14 Februari 2014\u003Cbr \/\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/feeds\/3895152962671137553\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/09\/prof-dawam-rahardjo-bank-syariah.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/3895152962671137553"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/5810297885412316870\/posts\/default\/3895152962671137553"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.beritajabaronline.co.vu\/2016\/09\/prof-dawam-rahardjo-bank-syariah.html","title":"Prof. Dawam Rahardjo: “Bank Syariah ‘Peternakan Uang’ Ribawi yang Haram!”"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-4nI-HsnUF3c\/V9yv2Ym8JhI\/AAAAAAAABS8\/EvxofCTethkSxGmmW1vhiRfNPYUiyO2vQCLcB\/s72-c\/images.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}}]}});