Home » » Musim Hujan, Korban Longsor Purwakarta Mulai Resah

Musim Hujan, Korban Longsor Purwakarta Mulai Resah

Written By redaksi on Kamis, 27 November 2014 | 11/27/2014

Purwakarta – Memasuki musim hujan, 78 kepala keluarga (KK) di Kampung Cilawang RT 23/08, Desa Cianting, Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta resah. Ya, mereka merupakan warga yang menjadi korban longsor di wilayah itu.
Mereka khawatir, peristiwa yang menimpa desanya awal 2013 lalu kembali terulang. Kala itu, tercatat 21 rumah warga rusak akibat pergerakan tanah.
Memang, menurut Dinas Energi Sumber Daya Minieral (ESDM) setempat beberapa kampung di desa itu memiliki riwayat kerawanan gerakan tanah cukup tinggi. Jadi perlu diwaspadai.
Namun sayang, nasib 78 KK yang menjadi korban longsor itu masih terkatung-katung. Pasalnya, hingga kini mereka masih tinggal di pengungsian pascalongsor yang terjadi awal tahun kemarin.
Padahal, pemerintah setempat sempat berjanji akan merelokasi kediaman mereka ke tempat yang lebih aman dan jauh dari gerakan tanah. Namun hingga kini belum terealisasi.
Iyan Sopyan (36), salah seorang warga korban longsor Cilawang mengatakan, hingga kini dia dan puluhan warga lainnya masih bertahan di tenda pengungsian dengan fasilitas seadanya. Dia mengaku belum berani pulang ke rumahnya. Selain itu, mereka masih menunggu janji pemerintah yang akan merelokasi mereka.
"Kami belum berani pulang. Apalagi, saat ini mulai memasuki musim hujan. Selain itu, menurut pemerintah kampung kami sudah tak layak dihuni dan harus dipindahkan. Tapi, rencana tersebut hingga kini belum juga ada kepastian," ujar Iyan, Rabu (26/11/2014).
Dia menjelaskan, pascalongsor awal 2013 itu pemerintah menyatakan Kampung Cilawang tidak layak lagi dijadikan tempat tinggal. Karena kortur tanahnya yang labil dan masuk pada zona merah rawan gerakan tanah.
Saat itu juga, pemerintah menjanjikan akan merelokasi kampung tersebut dan membuat tempat tinggal baru untuk warga.
Iyan mengaku, saat ini warga korban longsor hanya punya dua pilihan. Kembali ke rumah yang berada tepat di bawah bukit yang setiap saat bisa longsor, atau bertahan hidup di tenda pengungsian yang sudah mulai lapuk dan rusak.
"Informasinya sih para pengurus di kecamatan sudah melakukan pertemuan dengan pihak pemkab. Hasil pertemuan itu menyimpulkan, jika kami akan direlokasi secepatnya ke tempat yang sudah ditentukan. Yakni, di daerah Kampung Andir, Desa Cianting atau sekitar lima kilometer dari Kampung Cilawang," jelas dia.
Iyan menambahkan, warga mulai merasa jenuh tinggal terlalu lama di pengungsian. Apalagi, di tenda pengungsian fasilitasnya serba terbatas. Selain itu, kondisi seperti ini tak baik untuk perkembangan anak-anak. Untuk itu, dirinya berharap pemerintah segera realisasikan relokasi mereka.
"Karena jenuh, ada juga warga yang memberanikan pulang ke rumah. Sekarang paling tinggal lima KK saja yang masih di tenda pengungsian," tambah dia.
Kepala Dinas ESDM, Tarsamana Wawan Setiawan menyatakan, Kampung Cilawang memang tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal. Karena lokasi itu masuk ke zona merah dan memiliki kontur tanah berkategori gerakan cukup tinggi.
"Warga tinggal di kampung tersebut harus direlokasi ke tempat yang lebih aman," jelas dia.
Terkait relokasi, pihaknya menyarankan supaya kontruksi bangunan yang akan digunakan dibuat non-permanen. Artinya, rumah harus dibangun dengan tidak menggunakan bahan dan material berat.
"Jadi, bangunannya bisa dibuat rumah panggung seperti di Kampung Naga," pungkasnya. [hus/IK]
Live from BlackBerry® on esia max-d, Internet Max, Biaya Mini.














Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Beja Online | Beja Online
Copyright © 2011. Berita Jabar Online - All Rights Reserved
Template Created by Beja Online
Proudly powered by Blogger