"Sebelumnya, pasokan beras untuk masyarakat miskin itu sebanyak 17,6 ton dalam sekali pendistribusian," keluh Ate, perangkat Desa Babakan kepada "GM" di Desa Babakan, Kamis siang.
Namun saat ini, kata Ate, beras raskin itu sebanyak 14 ton yang didistribusikan, sehingga mengalami pengurangan 3,6 ton.
"Adanya pengurangan itu sudah berlangsung selama dua tahun ini," kata Ate.
Sementara Ketua RW 15 Komplek Perumahan Pasir Madur Endah Desa Babakan, Hermanto, mengatakan dengan adanya pengurangan pasokan beras dari bulog untuk warga di Desa Babakan, Kec. Ciparay, Kab. Bandung tersebut rawan terjadi benturan/konplik antara warga dengan aparat RT dan RW.
"Soalnya, ada kecemburuan dari warga yang tak menerima raskin," keluh Hermanto.
Semula, kata dia, pasokan beras untuk masyarakat miskin di lingkungan RW itu guna 150 RTS. "Saat ini, hanya untuk 40-50 RTS. Sehingga banyak RTS yang tidak kebagian raskin," katanya.
Untuk itu, Hermanto selaku aparat RW mengharapkan kepada bulog menambah pasokan raskin untuk RTS. "Jangan sampai menimbulkan persoalan karena pasokan raskin tidak merata," katanya.
Ia juga mempertanyakan data penerima RTS yang ada di bagian pendistribusian raskin tersebut. "Kami hawatir, data yang dipakai merupakan data lama RTS," katanya.
Untuk itu, kata Hermanto, perlu ada pendataan ulang RTS. Dengan adanya pendataan kembali, kata dia, data akurat RTS bisa diketahui. "Apakah jumlah warga miskin itu berkurang atau bertambah," katanya.
Jika data RTS bertambah, kata dia, menunjukkan ekonomi masyarakat mengalami penurunan. Sedangkan jika berkurang, ekonomi masyarakat mengalami perbaikan.
"Tapi saat ini masih banyak warga yang mengharapkan beras raskin," katanya.
(kos/GM)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar